• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Komunitas Muwallad Berakhlakul Karimah

Tuesday
Jan 06th

Web Blog

Membina Ukuwah Islam dan Meningkatkan Ketakwaan

Peringati Pembakaran Masjid Al-Aqsha

Jakarta -infopalestina: -Kami peserta Konferensi Internasional Al-Aqsha “Aksi Nyata Mengembalikan Masjid Al-Aqsha Ke Pangkuan Muslimin”, yang diselenggarakan di Jakarta tanggal 20 Sya´ban 1429 H. atau 21 Agustus 2008 M., dihadiri lebih dari dua ratus tokoh mewakili para ulama, pemuka organisasi Islam, cendekiawan, para pimpinan politik, dan jurnalis, baik nasional maupun internasional.


Pada tahun 1967, Zionis Yahudi menginvasi Palestina dengan cara mendirikan negara Yahudi di atas Negara Palestina, dengan cara menduduki Palestina.  Orang-orang Yahudi ini, mengusir bangsa Arab Muslimin yang mendiami tanah Palestina dan mulai memporak-porandakan Masjidil Aqsha. Mereka membangun rumah-rumah mewah di atas puing-puing rumah bangsa Palestina Muslimin. Mereka perlakukan Masjidil Aqsha dengan semena-mena, seperti membolehkan siapa saja untuk masuk ke dalam masjid. Hingga tak jarang, terlihat pemandangan orang Yahudi yang sedang berpacaran di dalam masjid atau para turis yang berkeliaran dengan pakaian seadanya di lingkungan masjid.

20 Aug, 2008

Kembali

Ketika pagar2 pembatas kebebasannya tiada lagi ...

Langkahnya tak terhalang lagi,

Pandangannya tak lagi terbentur dinding dan jeruji besi,

Dia mengawali kehidupannya seakan bangkit dari mati,

 

Pasti ...!

Tiada ragu tiada beban di hati,

Sekian lama mencari apa yang mereka tiada perduli,

Aku bukan mereka dan aku perduli,

Hidup suatu petualangan dan yang menemukan hanya yang mencari,

Yang bertanya pantas mendapat jawab yang pasti,

 

Pasti ...?

Tiba2 heningpun terusik dan waktupun seakan terhenti,

Ada tanya yang menyelinap di cela2 sepi,

 

Pasti ...!?

Terlahir dan hidup serta mati telah pasti,

Apa lagi yang kalian cari ?!,

Sejuta tanya pernah menghampiri,

Sejuta fatwa pernah mendakwa diri ini,

Telah terlangkahkan kaki ini dengan keyakinan di hati,

 

Mencari ...

Aku tidak mencari kalian dan aku tidak mencari yang kalian cari,

Kalian tak perlu mencari apa yang aku cari,

Aku mencari aku yang hampir2 tak kukenali,

Aku mencari aku yang selama ini kubiarkan sendiri,

Aku yang selalu menemani meski aku tak perduli,

Jiwaku yang lebih mengenal Sang pasti,

Jiwa yang tunduk patuh diawal janji,

Jiwa yang akan tetap tunduk patuh hingga akhir janji,

Kini telah kutemukan kembali,

Meski tiada terlahir kembali diri ini tapi seakan telah bangkit dari mati,

Tuulijulaila finnahaari watuulijun nahaara fillaili,

Watukhrijul hayya minal mayyiti watukhrijul mayyita minal hayyi,

Watarzuqu man tasyaau bighairi hisaab,

 

ai sungkar ...

Pertanyaan manakah yang seharusnya lebih pantas diajukan kepada manusia masa depan atau masa lalukah sebenarnya yang lebih menakutkan sejuta fakta terdakwa tuk melandasi jawabannya.
 
Masa depan ...?
 
Suatu tantangan yang nyata yang kadang ada atau diadakan oleh keganasan manusia dalam menggapai apa yang belum tentu asa, terseret oleh tuntutan duniawi yang bertolak ukur materi, derajat atau pangkat yang lebih berharga dari sekedar kyai, haji yang harus disandang untuk dapat terpandang meski dari dana korupsi dan masih banyak tuntutan masa depan dan sejuta tantangannya yang menghadang tapi sebenarnya bukan itu yang aku pentingkan, bukan materi tapi harga diri, bukan materi tapi cinta yang suci harga diri yang tercaci dan cinta suci yang mungkin terkhianati
siapa sebenarnya yang lebih mengenal diri ini jika yang mendakwa lebih pantas duduk di kursi terdakwa.
 
masa lalu ... ?
 
Jika masa lalu seakan tak pernah berlalu seakan begitu kejamnya menghantui, terhenti diantara detik yang berdetak tuk maju bukan tak mampu atau mungkin bahkan tak mau kembali
 
Jika mungkin saja ada perjalanan kembali ke rahim ibu meski harus berjalan diatas duri menelusurui belukar caci dan maki mungkin akan lebih baik bagi mereka entah siapa tapi bukan diri ini, jika masa depan hampa bagi mereka tuk menoleh masa lalu tiada apa lalu harus kemana ... ?
 
terhenti diantara detik yang berdetak diam terbungkam bagaikan penghuni makam yang mengenal hari ini tentunya mengenal kemarin, dalam asa hanya yang mati mungkin tak lagi bermimpi, yang mati mungkin tak lagi memerlukan masa depan karena yang mati ada di masa lalu tapi haruskah kita mati hanya karena kejamnya masa lalu yang mendakwa atau  mungkin karena masa depan yang begitu suram menghadang lalu harus bagaimana ...?
 
Kembalikan kodrat kita sebagai manusia ingat akan ada Nya Allah S. W. T, yang ada dan akan tetap ada meski jika semua harus tiada, sebagaimana aku dimata Nya berjalanlah di muka bumi seiring dengan sang waktu agar tiada yang tertinggal.
 
Sang waktu ada sebelum kita mengenal apa atau siapa yang entah mengapa, dan dia ada disaat kita seakan tak berati apa atau bahkan tak dikenal tapi tiada terdakwa yang tak dikenali oleh Nya meski yang mendakwa belum tentu lebih atau bahkan mengenal Nya
 
Karena-Nya aku mampu menghampiri masa lalu ku dengan damai di hatiku meski kadang ada tangis yang mengiringi rasa syukurku akan kekurangan atau ketidakmampuanku di masa lalu ...
 
Terhadap Nya kumohonkan ampunan dan kekuatan untuk dapat melihatnya kembali dengan lebih bijaksana akan hikmahnya atau bahkan  mungkin melupakannya, tentunya ada pula senyuman yang mengiringi rasa syukurku terhadap segala apa yang merupakan karunia nikmat dan rahmat Nya di masa laluku, yang dengan semua itu menjadikan aku lebih tegar dan memberikan kekuatan tersendiri untuk berjalan seiring dengan sang waktu dalam menggapai masa depan.
 
Menjadikan aku mampu mensyukuri segala apa yang telah ada atau bahkan yang akan ada karena jika masa lalu adalah perjuangan maka yang ada adalah karunia atau cobaan, dan yang akan ada adalah persembahan yang masih harus diperjuangkan ...
 
hadapi ... !
 
Jika masa lalu telah menghantui mengapa harus kita jadi kan masa depan sebagai hantu yang lain ...
 
ai sungkar

03 Aug, 2008

Maling Kundang

Tintapun seakan terdakwa Tinta yang mengungkap kata dalam fakta Fakta yang tak mungkin ada yang mampu memungkirinya Tajamnya kata yang menghunjam jiwa seorang perempuan tua Tergores tajam dalam kitab pertanggung jawaban dosa Tapi apa makna dari segalanya Jika manusia tak lagi perduli akan Tuhannya Jika si bayi yang dilahirkan durhaka pada ibunya Sakit hatinya tak mampu menahan jiwanya yang menggetarkan bibirnya Terucap kata sebagai do'a yang bergema di neraka Terlaknat anaknya karenanya Murka Sang Kuasa Pintu ampunanpun tertutup karenanya Waktupun terhenti diantara masa Menjadi saksi terkhianatinya cinta ibunda Telah menjadi batu si Maling Kundang karenanya Tintapun seakan terdakwa ai sungkar

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Pencarian Sasak.Net

Powered by

Sponsor Utama

Zahir

Al Quran Online

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini19
mod_vvisit_counterKemarin72
mod_vvisit_counterSeluruh8073

Sedang Online

We have 6 guests online